Sunday, April 24, 2011

Tangan Dingin dan Beku Tanda Stress ?

Tangan terasa dingin dan jari-jari membeku? Bisa jadi itu cara tubuh menyampaikan Anda sedang stres atau gejala medis lain yang lebih serius.
Kecemasan dan stres berpengaruh pada sistem saraf sehingga pembuluh darah berkontraksi dan menghambat sirkulasi darah ke bagian tangan. Pada beberapa orang yang memiliki sirkulasi buruk, tangan akan terasa lebih dingin lagi.
Bila rasa dingin disertai dengan kekakuan, kebas, dan perubahan warna (menjadi biru atau agak merah), Anda mungkin mengalami fenoma Raynauds yang bisa memengaruhi sirkulasi darah. Kondisi ini terjadi ketika aliran darah ke bagian tubuh tertentu seperti jari tangan berkurang. Biasanya disebabkan karena udara yang terlalu dingin.
Faktor penyebab rasa dingin di tangan lainnya adalah penyumbatan arteri gangguan jaringan atau efek samping obat golongan beta-blocker untuk penyakit kardiovaskular.
Bila pemicu utama tangan yang beku ini karena stres, lakukan teknik rileksasi agar sirkulasi darah kembali lancar. Sementara itu juga tangan Anda dingin tanpa alasan yang jelas dan sering terjadi, konsultasikan kepada dokter.
From : Kompas.com

Kompak dan Harmonis Karena Makan Bersama

Keluarga yang harmonis bisa dibangun dari meja makan. Begitulah kesimpulan para ahli sosiologi dan psikologi. Anak-anak yang rutin diajak orangtuanya untuk makan bersama juga lebih jarang yang menjadi pecandu alkohol, rokok, atau obat terlarang. 

Kegiatan makan bersama tak hanya mengenyangkan perut, tapi juga jiwa. Lewat kegiatan ini, orangtua dan anak bisa saling mengungkapkan pengalaman, pendapat, dan perasaan masing-masing. Orangtua juga bisa menyalurkan pengetahuan dan kebiasaan yang positif kepada anak-anaknya.

Makan bersama adalah perekat semua anggota keluarga, kata Meg Cox, penulis buku The Book of New Family Traditions: How to Create Great Rituals for Holiday & Everyday. "Aktivitas ini adalah tentang hubungan orangtua dan anak, tentang perasaan dicintai, identitas, serta rasa aman yang sangat dalam," katanya.

Apa saja aktivitas yang bisa dilakukan bersama keluarga di meja makan selain makan? Banyak dan tak terbatas. Sebagai inspirasi, Anda bisa mencoba saran yang diberikan Cox dan Lawrance Cohen, PhD, psikolog klinis dan penulis buku Playful Parenting berikut ini:

Masak bersama
Bahkan, si balita pun akan menikmati kegiatan masak yang dilakukan bersama ayah-ibunya. "Yang perlu dipahami, ini bukan tentang hasil masakannya, tapi prosesnya," kata Cohen.

Mungkin akan butuh waktu lebih lama untuk membuat masakan ketimbang saat Anda mengerjakannya sendiri, bahkan dapur juga akan berantakan dan kotor. Namun, ingatlah bahwa ini tentang menghabiskan waktu berkualitas bersama-sama.

Membaca di meja makan
Pilihlah buku yang menarik untuk anak-anak, lalu Anda bacakan keras-keras saat si kecil makan. "Ini bisa jadi taktik agar anak suka makan sayur. Katakan Anda tak akan meneruskan membaca bila anak-anak tak menghabiskan isi piring di meja," kata Cox.
Mengundang teman atau saudara
Secara berkala, misalnya sebulan sekali, undanglah saudara sepupu atau sahabat anak Anda untuk menikmati makan malam bersama. "Lewat kegiatan ini anak akan belajar pentingnya komunitas teman. Anak juga akan tumbuh dalam lingkungan yang membuatnya merasa aman karena mereka dikelilingi orang-orang yang peduli kepadanya," kata Cox.

Makan malam istimewa
Lakukan aktivitas makan bersama di luar rumah. Misalnya makan es krim setelah makan malam di rumah seminggu sekali atau belanja ke pasar tradisional bersama-sama untuk membeli ikan yang akan dimasak nanti siang. 

Selamat mencoba!

From : Kompas.com

Keluarga yang Utuh Bikin Anak Bahagia

Keluarga yang utuh, terdiri dari ayah dan ibu, ternyata menjadi aspek yang paling berpengaruh pada perkembangan emosional anak. Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang utuh dan secara teratur melewatkan makan malam bersama merasa lebih bahagia dengan hidupnya.
Kehadiran ayah dan ibu dalam proses tumbuh kembangnya menghadirkan perasaan percaya, kedamaian, juga harapan pada anak. Efek positif itu akan lebih kuat jika orangtua membangun bondingdengan anak-anaknya, salah satunya lewat kebiasaan makan bersama minimal tiga kali dalam seminggu.
Sebuah penelitian juga menemukan keluarga yang retak berdampak lebih buruk pada anak dibanding dengan kemiskinan. "Tidak hidup dengan ayah dan ibu memiliki efek negatif lebih besar dibanding anak yang tumbuh dalam situasi materi terbatas," tulis tim peneliti dari Inggris.
Belum lama ini mereka melakukan survei besar terhadap 100.000 orang dalam 40.000 rumah tangga di beberapa negara.
"Relasi antara ayah dan ibu serta hubungan dengan anak-anak sangat berpengaruh pada kecerdasan dan perkembangan emosional anak. "Anak-anak lebih bahagia dalam situasi keluarga di mana orangtua mereka bahagia satu sama lain," katanya.
From : Kompas.com

Anak Sumber Kebahagiaan Orang Tua ?

Bangun tengah malam untuk menyusui atau mengganti popok, rasa putus asa ketika menghadapi anak yang sedang tantrum mungkin sebanding dengan kebahagiaan yang dirasakan orangtua. Sebuah survei berskala besar menyimpulkan anak-anaklah sumber kebahagiaan sejati para orangtua.
Dalam sebuah survei yang melibatkan lebih dari 200.000 pria dan wanita di 86 negara antara tahun 1981 dan 2005 terungkap orangtua berusia 40 tahun yang memiliki satu hingga tiga anak merupakan yang paling merasa berbahagia dibanding pasangan yang tidak punya anak.
Di lain pihak, orangtua yang berusia kurang dari 30 tahun mengakui kurang begitu bahagia dengan kelahiran anak. Sebaliknya orangtua yang berusia 30-39 tahun memiliki level kebahagiaan sama seperti halnya pasangan yang belum diberi momongan.
Bagaimana dengan pasangan yang mulai berusia lanjut? Di atas usia 50 tahun, para ibu dan ayah merasa hidupnya bahagia dengan kehadiran anak-anak, berapa pun anak yang mereka miliki.
Penelitian yang dilakukan oleh Max Planck Institute for Demographic Research di Jerman ini menyimpulkan pasangan yang memutuskan untuk tidak punya anak mungkin berbeda dengan mereka yang memilih sebaliknya. Perbedaan ini akan memengaruhi level kebahagiaan mereka.
Sebelumnya sebuah penelitian menyebutkan memiliki anak bisa mengurangi kebahagiaan perkawinan. Namun dari penelitian terbaru tersebut ternyata rasa tidak bahagia karena kerepotan mengurus anak tadi akan menghilang seiring dengan bertambahnya usia anak.
"Untuk orangtua yang berusia 40 tahun, makin banyak jumlah anak yang dimiliki, makin bahagia mereka. Bisa dibilang anak-anak merupakan investasi kebahagiaan dalam jangka panjang," kata Mikko Myrskyla, ketua peneliti.
Semakin besar usia anak, kerepotan dalam membesarkan anak akan berkurang sehingga stres yang dirasakan ayah dan ibu mulai pupus. Selain itu anak-anak yang sudah dewasa bisa menjadi sumber dukungan finansial para orangtua, terutama di negara-negara yang penduduk lanjut usianya tidak ditanggung oleh negara.
Di negara yang sistem jaminan kesejahteraannya sudah baik, seperti Jerman, Austria atau Swiss, tidak ditemukan perbedaan kadar kebahagiaan dari pasangan yang punya anak atau tidak.
From : Kompas.com

Percaya Diri Bantu Atasi Stress

Apakah Anda kerap mengalami stres akibat beban  pekerjaan yang berat atau tekanan dari lingkungan? Motivator Indah Morgan menawarkan salah satu solusinya buat Anda. Salah satu jalan keluar dari stres adalah dengan menumbuhkan rasa kepercayaan diri.

Indah, ibu dari tiga anak yang bersuamikan Dr Stephen Morgan, Associate Professor Nottingham University, itu menegaskan, seseorang harus berani mengambil risiko sehingga pada akhirnya membuahkan rasa percaya diri. 

"Tidak ada yang lebih bermanfaat dalam menumbuhkan rasa percaya diri layaknya mendorong diri sendiri keluar dari zona nyaman," ujarnya di hadapan para diplomat Indonesia dalam suatu acara seminar di gedung KBRI Athena, Kamis (3/3/2011) malam. 

Menurut guru pada pelatihan bahasa Inggris di KBRI London tersebut, tindakan ini juga berfungsi untuk mengurangi rasa takut terhadap hal-hal yang belum pernah dikerjakan sebelumnya. Dengan demikian akan timbul rasa percaya diri yang luar biasa.

Ia juga menyarankan untuk banyak bergaul dengan orang-orang yang memiliki rasa percaya diri tinggi dan berpikiran positif. Menurutnya, faktor lingkungan akan memberikan pengaruh yang besar pada seseorang. 

"Jika kita terus-menerus berbaur dengan orang yang memiliki rasa rendah diri, pengeluh, dan pesimis, maka seberapa besar pun percaya diri yang kita miliki, perlahan tapi pasti akan pudar dan terseret mengikuti lingkungan kita," ujarnya.

Sebaliknya, lanjut Indah, jika kita dikelilingi orang-orang yang penuh kebahagiaan dan percaya diri, maka akan tercipta pula atmosfer positif yang membawa keuntungan bagi diri kita dan produktivitas.

Seminar ini juga diikuti oleh masyarakat Indonesia yang tergabung dalam Ikatan Kerukunan Keluarga Indonesia di Yunani (IKKIY). Acara yang diadakan secara nonformal ini menurut Dubes RI Athena Ahmad Rusdi diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan kemampuan para diplomat Indonesia yang kadang kala mendapat tekanan cukup tinggi.

Dalam kesempatan itu juga diperagakan cara menangani stres dalam upaya meningkatkan percaya diri. Hal tersebut antara lain melalui terapi tertawa, pernapasan, dan relaksasi.

From : Kompas.com

Kepribadian Histrionik, Apa Itu ?

Orang dengan kepribadian histrionik perilakunya ditandai sikap selalu berupaya menarik perhatian lingkungan sebanyak-banyaknya demi kepuasan dan kenyamanan diri dengan berbagai cara. Cara yang dirasa efektif adalah mengeluhkan gangguan kesehatan.
Umumnya pribadi histrionik adalah orang yang cerdas dan verbalisasinya canggih sehingga mudah memanipulasi lingkungan. Lingkungan akan yakin pada penyakit yang dia derita dan akan memberi pelayanan, perhatian, dan kasih yang dia inginkan.
Mengapa dia menggunakan penyakit? Karena lingkungan budaya kita memungkinkan orang berlindung di balik penyakit demi kasih sayang, perhatian, dan pelayanan. Orang sakit mendapat tempat paling istimewa, dia bisa melepas tanggung jawab tanpa malu, dia juga bisa mendapat buah-buahan, makanan berlimpah, dan lepas sejenak dari tuntutan hukum, seperti banyak kejadian sakit mendadak pada tahanan kelas kakap di negeri tercinta ini.
Kasus
Saya sering tiba-tiba diserang rasa lemah, tidak berdaya, keluar keringat dingin, jantung berdebar keras, yang biasanya diikuti napas tersengal.
Serangan itu akan diikuti rasa cemas, bahkan saya terkadang takut mati, Bu. Bila sudah dipijit, digosok minyak angin, baru enak dan setelah berbaring beberapa jam pelan-pelan pulih kembali.
Serangan seperti ini bermula suatu hari beberapa bulan lalu saat saya terserang diare. Saya mengunjungi beberapa dokter, tetapi dokter tidak menemukan penyebabnya. Pemeriksaan laboratorium klinis, tekanan darah, sampai MRI saya lalui, semua hasilnya baik, tetapi penyakit saya tidak kunjung sembuh.
Akhirnya, saya dirujuk ke psikiater dan diberi beberapa obat penenang. Memang obat itu membuat tidur lebih nyenyak dan ketika bangun merasa sehat sebentar, tetapi tanpa diduga saya masih sering terserang penyakit itu.
Saat ini saya tidak lagi bekerja karena perusahaan yang saya dirikan sudah dipegang anak saya. Saya berkonsultasi kepada Ibu karena ingin tahu apa yang terjadi dalam diri saya. Demikian Ny K (53) dengan nada lantang dan jelas, serta kondisi fisik tampak kokoh, bugar, bahkan dapat dikatakan gemuk.
Tn K (54) menambahkan: Istri saya sebenarnya pribadi yang kokoh, pekerja keras, dan punya antisipasi masa depan yang sangat bagus. Dia merintis beberapa usaha demi masa depan anak-anak kami dan semua diawali dengan kerja keras, mandiri dan ambisi tinggi. Dia berhasil walaupun sering membuat anak-anaknya yang harus menjalankan usahanya terseret-seret ritme kerja ibunya. Saya akui beberapa tahun lalu saya agak tergelincir dan pernah sekadar ”main mata” dengan seorang gadis. Alhamdulillah belum sampai mendalam, istri saya tahu. Memang terjadi keributan, tetapi saya berjanji tidak akan melakukan lagi. Karena hanya keledai yang akan mengulang kesalahan, ya Bu. Saya duga peristiwa inilah yang mengawali keluhan penyakit beruntun yang istri saya sampaikan. Padahal, hasil pemeriksaan fisiknya begitu prima.
Dinamika pikologis
Ny K adalah orang yang cerdas dan memiliki ambisi prestasi tinggi, tetapi kecenderungan memaksakan kehendaknya sangat ekstrem. Artinya, bila Ny K memiliki keinginan, ia akan berupaya semaksimal mungkin agar tercapai, apa pun caranya.
Selain itu, kebutuhan akan perhatian dan sikap posesif terhadap apa pun yang dia miliki, seperti terhadap suami, juga sangat tinggi. Contohnya, setelah peristiwa ”main mata”, bila suami mendapat tugas ke luar kota, maka dengan upaya keras dia selalu berhasil mendapat tiket untuk akhirnya dapat mendampingi suami bertugas di luar kota.
Hal lain yang kemudian tercermati suami, bila karena waktu mendesak dan gagal memperoleh tiket, Ny K akan serta-merta terserang penyakit itu sehingga terkesan sangat menderita dan tidak berdaya, memohon agar suami tidak jadi berangkat ke luar kota karena Ny K takut mati saat suami tak di rumah. Dengan alasan serangan penyakit istri tersebut, Tn K meminta izin kepada atasan tidak jadi ke luar kota.
Analisis
Ny K berkepribadian histrionik. Aspek psikis dan fisik individu terkait erat dan saling mengisi satu sama lain. Artinya, bila sesuatu terjadi pada aspek psikis, maka aspek fisik pun terpengaruh dan sebaliknya. Kekhawatiran ditinggal suami merupakan stimulasi yang sangat berpengaruh terhadap kerja fungsi psikofisiologis sehingga kelenjar keringat aktif dan terjadi mobilisasi kerja saraf jantung. Serentak Ny K terserang keluhan di atas, yaitu berkeringat dingin, debaran jantung meningkat, napas tersengal, dan tidak berdaya.
Gangguan fungsi psikofisiologis tersebut merupakan efek gangguan fungsi psikis oleh keinginan kuat selalu bisa menyertai suami ke mana pun pergi dan keinginan kuat menghambat kepergian suami dengan memunculkan gejala fisik tersebut.
Ny K memiliki kepribadian histrionik dengan kecenderungan memanipulasi lingkungan agar memperoleh pemuasan kebutuhan akan perhatian berlebih dari lingkungan. Dengan kecerdasan tinggi, Ny K berhasil menampilkan perilaku teatrikal (permainan sandiwara). Sakit tanpa dasar gangguan organik jelas itu bisa saja tidak disadari Ny K, tetapi sangat menguntungkan karena bisa memaksa suami membatalkan perjalanan dinas dan mendampingi dia. Apalagi dengan alasan tambahan buatan, yaitu takut mati.
Konseling
* Menyadarkan dinamika psikologis yang menjadi penyebab dasar penyakit Ny K.
* Memfasilitasi pemanfaatan potensi positif Ny K, seperti kecerdasannya dan kegigihan dalam meraih prestasi kerja.
* Meningkatkan keyakinan diri dan kepercayaan akan kesetiaan suami.
* Menyadarkan bahwa lari pada penyakit bukanlah solusi pemecahan masalah yang matang dan mantap, apalagi bila seringnya suami menghindar dari dinas ke luar kota akan berpengaruh terhadap karier suami.
From : Kompas.com

Menebak Kepribadian Lewat Penampilan

Orangtua mengajarkan kita agar jangan menilai seseorang berdasarkan penampilannya saja, apalagi kalau baru pertama bertemu. Namun, studi terbaru secara mengejutkan menunjukkan, justru kesan pertama sering kali benar.

Lebih dari 100 mahasiswa University of Texas ikut terlibat dalam penelitian mengenai penilaian kepribadian berdasarkan penampilan. Para mahasiswa itu bertindak sebagai subyek atau sebagai juri penilai. Sebagai juri, mereka diminta menilai kepribadian seseorang dari selembar foto. 

Begini cara penelitian dilakukan. Pertama, para responden diminta berpose dengan kaku, menatap ke kamera, tidak tersenyum, kaki dirapatkan, dan tangan di sisi tubuh. Setelah itu, mereka diminta berpose lagi, kali ini secara natural dan spontan. Kemudian para responden itu diminta mengisi kuisioner mengenai kepribadian mereka. Para rekan mereka juga diminta menyebutkan sifat kepribadian para responden.

Setelah itu, para juri mengevaluasi kepribadian para subyek yang difoto. Ternyata saat melihat foto pertama, para juri ini bisa menilai secara akurat karakter para subyek foto, yakni extrovert, percaya diri, atau orang yang religius. Kemudian saat melihat foto dengan pose natural, mayoritas juri menilai dengan tepat kepribadian para subyek. 

"Sejak lama orang sering membuat penilaian berdasarkan informasi yang minim. Namun, dari hasil penelitian ini bisa kami katakan bahwa kesan pertama memang memancarkan karakter seseorang, bahkan hanya dengan melihat fotonya saja," kata Sam Gosling, peneliti dari University of Texas.

Gosling menambahkan, orang yang berkepribadian extrovert atau terbuka cenderung lebih banyak tersenyum, berdiri dengan energik, terlihat sehat, rapi, dan bergaya. Gosling menyimpulkan, kepribadian kita mungkin bisa terbaca dari penampilan dan ekpresi. Kalau begitu, mungkin kita boleh menilai buku dari sampulnya.

From : Kompas.com

Menebak Kepribadian dari Pilihan Kopi

Secangkir kopi tidak hanya sekadar buih dan gula yang mengendap di dasarnya. Karakter dan kepribadian Anda dapat tecermin di sana. Dua pakar bahasa tubuh asal Australia, Judi James dan James Moore, mengklaim bahwa selera dan pilihan kopi seseorang sebenarnya dapat mengandung makna tertentu.  

Menurut mereka, selera kafein dapat mengungkap banyak hal, seperti kepercayaan diri, tingkat stres, dan bahkan kehidupan seksual. Berikut ini uraiannya seperti yang tercukil dalam buku The You Code. 

Peminum "espresso": Mereka yang suka kopi ini cenderung moody, tegar, dan pekerja keras. Mereka juga suka menjadi pemimpin dan mengejar tujuan. Mereka  bisa jadi seorang pasangan yang berpengalaman dan menyenangkan, tetapi kesetiaannya belum tentu bisa diandalkan.

Peminum "black coffee": Tipe orang ini sungguh minimalis dan tanpa ornamen. Dia menerapkan pendekatan langsung dalam hidupnya. Peminum kopi ini bisa jadi pendiam dan moody, tetapi kadang kala juga bisa menjadi sangat terbuka pada orang lain. 

Peminum "latte": Secara tipikal, mereka adalah metroseksual. Peminum latte ingin menyenangkan orang lain dan sangat ingin disukai. Dengan memilih minuman hitam dan berbahaya kemudian mengubahnya menjadi minuman nyaman bercampur susu, James dan Moore bilang bahwa peminum latte mengakui bahwa mereka memiliki sisi ketidakmatangan walaupun ingin maju sebagai penantang.

Peminum "cappuccino": Seperti halnya yang mereka minum, penggemar cappuccino tidak penting seperti halnya buih dan gelembung, bosan dengan detail, tetapi tidak terobsesi dengan hal-hal material. Peminum cappuccino menikmati seks, tetapi mudah bosan dengan pasangan yang kurang imajinatif.

Peminum "instant coffee": Mereka ini tipe orang yang menyenangkan, langsung ke tujuan, suka tertawa, dan hidup dengan slogan "Jika tidak rusak, tak perlu diperbaiki". Peminum instant coffee bisa jadi hanya memiliki karier yang datar-datar saja dan harus melihat orang lain untuk melihat ke dalam apa yang tersembunyi dalam kepribadian mereka. Hal yang bukan omong kosong dari peminum instant coffee adalah alergi terhadap perilaku berpura-pura dan mereka tetap memakai kaus kaki saat melakukan seks."

Peminum "decaf soy milk": Mereka adalah tipe orang yang maunya benar sendiri, sok peduli lingkungan, pencari perhatian dengan kecenderungan pilih-pilih, rewel, dan gampang jijik. Selain itu, pilihan palsu ini menyiratkan sebuah kesombongan, tipe high-maintenance yang mendambakan sesuatu yang tidak dapat mereka peroleh dan merasa ragu dengan kepribadian mereka sebenarnya.

Peminum "frappuccino": Tidak karuan dan dangkal, peminum frappuccino akan mencoba apa pun sekali saja, terutama jika seorang selebriti lebih dulu melakukannya. Mereka senang memosisikan diri sebagai trend setter, tetapi mereka memberi kesan bahwa mereka adalah seseorang yang lebih mementingkan gaya ketimbang hal substansial  Hubungan asmara peminum frappuccino sering kali berlangsung seperti selera mereka.

Tidak suka kopi: Sungguh disayangkan, keputusannya tidak bagus. Menurut James dan Moore, takut minum kopi sama dengan takut akan hidup. Jika rasa kopi membuat Anda takut, maka Anda benar-benar seorang yang kekanak-kanakan, dan inilah saatnya untuk bergabung dengan dunia yang terus tumbuh!

From : Kompas.com

8 Tipe Kepribadian ini Pengaruhi Kesehatan

Dapatkah tipe kepribadian seseorang mengungkap semua hal tentang kesehatannya? Jawabannya adalah ya! Pasalnya, terdapat banyak bukti yang mengindikasikan bahwa karakter dapat memengaruhi kualitas kesehatan seseorang.
"Kepribadian merupakan hasil dari pengaruh gen dan lingkungan.  Dengan mengetahui Anda termasuk karakter mana bukan tidak berarti akan mengidap sejenis penyakit tertentu seperti jantung misalnya, tetapi setidaknya menjadi waspada akan risiko kesehatan," ungkap Dr Martin Hagger, pakar psikologi kesehatan dari Universitas Nottingham dan Universitas Curtin, Australia.
Manfaat positif lainnya, kata Hagger, Anda juga memeroleh kesempatan mengenal dan menganalisis aspek yang kurang sehat dalam karakter Anda, seperti kebiasaan merokok atau minum alkohol.
Berikut adalah beberapa tipe kepribadian seseorang beserta kondisi kesehatan yang biasa dikaitkan dengan karakternya :
1. Tipe Periang, Optimistis
Mereka yang masuk kategori ini biasanya punya pandangan yang luas akan kehidupan, tetapi mereka yang optimistis cenderung kelebihan berat badan.
Para ahli dari Doshisha University di Kyoto, Jepang, meneliti pria dan wanita obesitas yang sedang menjalani program pelangsingan termasuk konseling, latihan olahraga dan pengaturan nutrisi.
Peneliti menemukan, mereka yang pikirannya paling positif justru mencatat penurunan berat badan paling sedikit.  Diduga, dengan melihat sisi terang membuat pasien tidak terlalu peduli akan berat badannya dan selalu terjebak dalam godaan.
Sementara itu temuan peneliti  Universitas California AS menunjukkan, rasa percayaan diri mengatasi kesulitan hidup serta kerelaan justru dapat memicu risiko lebih besar.  Hal ini juga dapat menjelaskan mengapa mereka berkarakter periang relatif meninggal di usia muda.
Psikolog Dr Howard S. Friedman menganalisa data lebih dari  1.500 anak usia 10 tahun dan memantau perkembangannya hingga usia dewasa. "Mereka yang punya selera humor saat anak-anak rata-rata berumur pendek dibandingkan mereka yang kurang riang ." Riset lain di Universitas Stanford menemukan bahwa anak-anak tipe periang memiliki kecenderungan melakoni hobi yang lebih berisiko
2. Tipe Cemas
Para ahli di Universitas Descartes, Paris, dan Centre for Addiction and Mental Health, Toronto, Kanada, menemukan mereka yang berkepribadian needy  (terlalu berharap) lima kali berisiko mengidap masalah pencernaan seperti tukak lambung.
Orang yang dependen dan secara emosional kurang stabil juga cenderung merokok dan minum alkohol, punya kebiasaan makan tidak teratur dan gangguan tidur.  Semua kebiasaan itu dapat memicu rata-rata produksi asam lambung menjadi tinggi sehingga memicu tukak lambung.
Tingginya kadar hormom stres kortisol juga dapat memicu sakit kepala, jerawat dan infeksi kandung kemih.
Kabar baiknya? Mereka yang bertipe cemas ini lebih banyak melakukan seks, menurut sebuah penelitian dari Sheffield University, Inggris.
"Wanita yang bermasalah neurotik cenderung punya lebih banyak pasangan untuk hubungan jangka pendek, yang mengindikasikan adanya hubungan antara gairah seks mereka  dan kepribadian," Dr Virpi Lummaa, dari Departmen Ilmu Tumbuhan dan Binatang di  Inggris
Hal ini mungkin terjadi karena ketakutan akan tidak menemukan orang yang tepat atau gagal bereproduksi membuat mereka lebih sering melakukan hubungan seks dengan lebih banyak pasangan.
3. Tipe Sensitif
Pria yang tipenya cenderung seperti wanita — simpatik dan pengiba  — memiliki kadar stres yang lebih rendah dan berisiko lebih kecil mengalami serangan jantung, menurut sebuah riset di Universitas Glasgow Skotlandia.
Dalam riset itu, para pria diberikan nilai ‘maskulinitas’ dan ‘kewanitaan’ berdasarkan perilakunya seperti kemampuan memimpin, keteladanan, agresi, pengambilan risiko, afeksi, rasa belas kasih dan sensitivitas pada kebutuhan orang lain.
Penelitian menemukan, kecenderungan atau risiko pria mengidap penyakit jantung kronis mengalami penurunan seiring dengan nilai 'kewanitaan'.  Para ahli menyatakan, keterlibatan mereka dalam perasaan menyebabkan para pria lebih dapat menyampaikan emosinya dan memeroleh dukungan  termasuk berkonsultasi ke dokter.
4. Tipe Argumentatif
Permusuhan (hostile) dan perilaku agresif adalah salah satu kepribadian yang tidak sehat. Dalam studi terhadap 448 wanita yang menjalani pusat skrining payudara di Oncological Hospital of Kifissia, Athena, terungkap bahwa tipe perempuan tipe hostile cenderung mengidap kanker payudara.
Penelitian lain terhadap 61 pria yang mengidap kanker colon oleh ilmuwan di Creighton University School of Medicine, Nebraska, menemukan  peningkatan risiko yang serupa.  Diduga bahwa permusuhan dan amarah menghambat efektivitas sistem kekebalan tubuh, sehingga membuat tubuh lebih rentan sakit.
Amarah juga memberi 50 persen peningkatan risiko memburuknya kesehatan, kata peneliti dari Mount Sinai School of Medicine di New York. Orang yang marah merespon stres dengan lebih cepat dan kuat baik secara mental maupun fisilogis, sehingga meingkatkan tensi darah dan detak jantung — menyebabkan  kerusakan pada sistem kardiovaskuler.
5. Tipe Ramah
Menurut riset para ahli di Universitas Milan, pria berkepribadian ekstrovert berisiko lebih rendah mengidap sakit jantung. Mereka juga tidak mudah terkena infeksi dan lebih cepat pulih dari penyakit.
Hal ini terjadi akibat menurunya hormon stres, pasalnya  - para ekstrovert mampu mengatasi ancaman terhadap dirinya dengan lebih baik. Dan jika mereka merasa memiliki masalah kesehatan, mereka akan mengungkapkannya.  Pria yang ekstrovert juga cenderung punya lebih banyak anak.
6. Pemalu
Menurut penelitian, mereka yang punya sifat pemalu  50 persen berisiko lebih besar mengidap sakit jantung. Peneliti dari  Universitas Northwestern Chicago yang melakukan studi selama 30 tahun menyatakan hal ini disebabkan para pemalu cenderung memilih hidupnya terlindungi sehingga bila menemukan situasi baru menjadi lebih mudal stres.
Tipe pemalu juga lebih rentan terhadap infeksi virus seperti selesma yang lebih banyak dipicu akibat stres, menurut peneliti dari Universitas California.
"Tampaknya orang yang sensitif menjadi mudah merespon  stres lebih kuat ketimbang mereka cuek," kata Bruce Naliboff salah seorang peneliti.
7. Tipe Bodoh
Rendahnya IQ berhubungan dengan risiko yang lebih besar mengalami kecemasan, demensia dan gangguan stres pascatrauma, kata  peneliti dari Universitas Edinburgh.
Selain itu, riset yang dilakukan peneliti dari Harvard School of Public Health  terhadap anak-anak dengan  IQ  rendah menemukan peningkatan risiko depresi dan skizofrenia.
Salah satu teorinya sederhana : orang yang intelejensianya rendah butuh waktu lebih lama memahami pentingnya hidup sehat. Rendahnya IQ anak juga mengancam anak-anak menjadi rentan terhadap beberapa jenis gangguan mental.
8. Tipe 'Virtuous' (berbudi baik)
Seperti yang diharapkan, mereka yang teliti akan menuai manfaat dari sisi kesehatan, ungap penelitian dari University of Edinburgh and the Social and Public Health Sciences Unit di Glasgow.
Mereka yang memiliki tipe ini cenderung terhindar dari semua jenis penyakit seperti diabetes, hernia, masalah tulang, strok bahkan Alzheimer
Hasil tinjauan dari sekitar 190 riset menunjukkan bahwa orang yang teliti melakukan perilaku konsisten yang mendukung kesehatan, seperti rutin berolahraga dan diet makanan sehat.
From : Kompas.com

Kepribadian Narsistik dan Facebook

Dalam ilmu psikologi, mereka yang memiliki kepribadian narsistik merupakan orang yang jauh lebih mencintai dirinya daripada orang lain. Akibatnya seringkali mereka sulit berempati kepada orang lain.
Kecuali narsis, orang yang tidak mampu mencintai juga egois, mau enak sendiri dan kurang percaya diri. Mereka juga sulit terikat dalam komitmen jangka panjang dengan satu pasangan. Makanya orang tipe ini sulit mengikatkan diri pada perkawinan monogami.
Menurut para ahli dari American Psychiatric Association, pada umumnya orang narsistik juga memiliki gangguan kepribadian lainnya, seperti histrionic personality disorder yang sangat ekspresif dalam menunjukkan emosinya.
Meski sebagai awam sulit mengenali ciri-ciri orang yang narsistik, namun sebuah penelitian yang dilakukan para ahli dari University Georgia, Amerika, menyebutkan bahwa laman profil di situs jejaring sosial Facebook bisa mengungkap kepribadian narsis seseorang.
Dalam studi yang mereka lakukan terhadap 130 pengguna Facebook ditemukan jumlah teman dan postingan dinding (wall post) berkaitan erat dengan tingkat kenarsisan seseorang. Orang yang narsis biasanya memiliki jumlah teman yang banyak namun sebenarnya tidak punya relasi yang dalam dengan orang-orang tersebut.
"Dalam kehidupan nyata juga demikian, mereka punya banyak teman tapi tidak ada yang dekat secara personal. Yang penting untuk mereka adalah kuantitas, bukan kualitas," kata Laura Buffardi, Ph.D, ketua peneliti yang risetnya dipublikasikan dalam jurnal Personality and Social Psychology Bulletin.
Facebook juga dipakai sebagai sarana untuk mempromosikan diri orang yang narsis. Karena itu mereka suka memasang foto profil yang menarik dan berbeda untuk membuat orang lain terpesona.
"Orang yang narsistik mungkin terlihat sebagai orang yang menarik hati namun sebenarnya mereka merasa diri lebih hebat. Mereka juga suka menggunakan orang lain untuk keuntungannya sendiri, dalam jangka panjang mereka akan melukai orang lain dan dirinya sendiri," kata W.Keith Campbell, salah seorang peneliti.
Meski begitu, Campbell mengatakan bukan berarti penggemar Facebook adalah orang yang narsis. "Orang yang narsistik menggunakan Facebook seperti mereka menggunakan relasi sosial lainnya, hanya untuk mempromosikan dirinya," katanya.

Top Menu